Akhir-akhir ini, saya sering geli melihat poster-poster yang disana terpampang “HARGA MATI“. Semua memakai harga mati, mulai dari “NKRI harga mati“, “Netralitas TNI Polri harga mati“, “Pemilu damai harga mati“, semua dihargai mati. Tapi, slogan tinggalah slogan, sementara realita tak seindah slogan. Ketika NKRI harga mati, banyak kekayaan alam kita yang dicuri, ekonomi kita dijajah, politik dalam negeri kita diintervensi. Harga mati untuk peran aparat, sepertinya masih diatas angin. Beberapa kali ternyata ditemukan kasus keterlibatan oknum aparat, baik sipil maupun militer dalam memobilisasi kepentingan elit politik. Demikian pula Pemilu damai, ternyata harga mati hanya diatas kertas. Ternyata Pemilu yang diwarnai dengan aksi kekerasan, bahkan sampai ada simpatisan mati, masih saja ada.
Harga mati menurut saya tak lebih dari sebuah hiperbola. Bahkan terdapat unsur intimidasi mental yang membuat pembacanya ngeri melihatnya. Rasanya, ketika orang membaca “xxxxx harga mati” dibikin berdiri bulu kuduknya. Gimana kalau orang tidak sepakat dengan harga mati tersebut. Akankah dimassa ramai-ramai?
Indonesia, apakah engkau mengerti akan harga mati…?

